Putuskan Sendiri

Views: 60
0 0
Read Time:2 Minute, 5 Second

Seringkali tanpa kita sadari, kita sering menunggu-nunggu. Mau mengambil keputusan, menunggu pendapat orang lain.  Mau melakukan sesuatu, menunggu orang lain duluan menjalaninya. Mau mengerjakan sesuatu, menunggu disuruh lebih dahulu. Parahnya, terkadang ini kita lakukan karena kita mencari alasan supaya bisa melemparkan kesalahan jika terjadi kegagalan atau masalah.

Selain itu, ada satu fenomena yang disebut “seek for approval.” Banyak dari kita yang merasa jika kita melakukan sesuatu harus atas persetujuan pihak lain, bisa jadi orang yang kita anggap sebagai pimpinan, panutan atau yang memiliki otoritas pada diri kita (ini semua atas asumsi kita sendiri). Jika kita merasa “tidak disetujui” maka kita tidak melakukannya. Sebenarnya ini tidak bisa disalahkan, karena budaya kita umumnya suka menghakimi orang. Lihat saja yang terjadi di sosmed belakangan ini. Jika seseorang melakukan “kesalahan” menurut ukuran netizen, maka akan dihujat beramai-ramai. Tetapi bagi yang dilihat sebagai panutan, apapun yang dilakukan akan mendapat puja-puji, meskipun hanya pamer kemewahan saja (yang belum tentu milik si panutan itu).

Menentukan jalan dan keputusan sendiri bukan berarti mengabaikan masukan, saran atau nasihat orang lain, terlebih dari mereka yang berpengalaman. Contohnya, sudah dibilang jangan berinvestasi ke instrumen yang “too good to be true,” seperti profit atau return yang sangat tak masuk akal, tetap saja berbondong-bondong orang pada masuk ke investasi tersebut. Kita tetap harus memperhatikan pendapat dari mereka yang memiliki pengetahuan dan pengalaman, tetapi soal keputusan tetap harus kita lakukan sendiri dan hasilnya juga harus kita terima sendiri, jangan menyalahkan orang lain.

Bayangkan seorang pimpinan perusahaan besar yang harus melakukan keputusan-keputusan strategis hampir setiap saat, tentu tetap harus mendengarkan masukan dari dewan direksi, advisor dan informasi dari market. Tetapi, keputusan tetap harus diambil oleh dirinya sendiri. Jika tidak yakin, ia bisa minta voting, tetapi ia tetap harus memutuskan, dan tidak mungkin mengabaikannya. Segala konsekuensi yang terjadi dari keputusannya harus siap diantisipasi.

Intinya, jangan menggantungkan hidup kita pada orang lain, jangan menunggu mengambil keputusan atas dasar approval orang lain, apalagi terkait dengan masa depan hidup kita. Kadang kita benar dalam keputusan, tetapi sering kali juga salah. Konsekuensi yang terjadi harus diantisipasi, baik berupa kesuksesan maupun kegagalan. Ketika terjadi konsekuensi yang fatal, bukan berarti kita tenggelam, tapi kita tetap bisa minta bantuan dari pihak lain, dan belajar dari kesalahan tersebut.

Pepatah mengatakan, keledaipun tidak akan terantuk batu yang sama dua kali. Tetapi sebagai manusia, kita bisa saja melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Belajarlah dari kesalahan yang terjadi, perbaiki dan ubah caranya, yang penting tidak boleh menyerah, apalagi malas dan menyerahkan keputusan atas hidup kita pada orang lain.

Penulis

W. Andrea

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Let's Coding while Relaxing