Tempat Bertanya

Views: 62
0 0
Read Time:2 Minute, 21 Second

Suatu sore di akhir paruh kedua tahun 80an, Jeki -sahabat saya yang sama-sama sedang mengambil kursus komputer dasar- memasukkan pertanyaan ke personal computer Apple  II yang kami gunakan untuk belajar. Cuma pertanyaaan iseng, “Apa nama ibukota Indonesia?” Hari itu hari pertama kami kursus, dan Jeki dengan segala misinformasinya menganggap PC itu bisa menjawab segala pertanyaan. Tentu saja, pertanyaan yang diketikkan di command prompt Apple DOS itu cuma mengeluarkan jawaban: Syntax Error! Dan Jeki memberikan tanggapan lugu, “Lho, koq gitu??”

Jeki tidak memahami, PC itu kosong, hanya berisi sistem operasi DOS yang di-load menggunakan disket seukuran 5¼ inci. Hari ini kami baru belajar mengenai dasar-dasar sistem operasi DOS beserta perintah-perintahnya. Seusai kursus, Jeki mengangguk-angguk, “Ooo, jadi komputer itu sebenarnya bodoh ya, kalau tidak ada data apa-apa ya ga bisa memberikan jawaban apapun.”

Satu dekade kemudian, era internet dimulai dan Google mulai dibangun, dan memasuki milenium baru, mereka mulai menjalankan fungsi mesin pencariannya. Pertanyaan Jeki dulu tinggal dimasukkan dalam search bar, dan langsung sederet informasi mengenai ibukota Indonesia tampil. Selang beberapa tahun kemudian, jawaban dari pertanyaan itu juga bisa ditemukan dalam format ensiklopedia melalui pencarian di Wikipedia.

Memberikan informasi kepada pertanyaan manusia menjadi fungsi dasar komputer bagi penggunanya. Komputer sudah semakin sulit disebut sebagai “sebuah alat” karena melalui internet, komputer sudah terhubung dengan berbagai sumber informasi yang tersimpan dalam kumpulan server dalam cloud. Memberikan informasi bukan lagi hanya sekedar menggali data yang tersimpan melalui data mining, tetapi sudah melalui pemrosesan pertanyaan melalui artificial intelligence (AI) yang diperkuat dengan kemampuan machine learning (ML). Dengan kata lain, komputer semakin cerdas, karena bisa belajar dari banyak sumber, termasuk dari pertanyaan kita. Jadi, di balik sebuah smartphone, jika kita menanyakan sebuah informasi, maka seketika itu juga berbagai algoritma akan langsung bekerja untuk memberikan jawaban terbaik.

Lalu mulailah timbul ketakutan baru bagi orang-orang yang saat ini kurang memahami teknologi, bahwa suatu saat AI akan menguasai dunia, menghilangkan banyak pekerjaan. Mungkin ada benarnya. Bahkan sekarang sudah ada teknologi no-code, sehingga orang awam pun bisa membangun aplikasi sendiri, dan beberapa software engineer ikut-ikutan khawatir. Padahal tentu saja di balik teknologi no-code, tetap ada para software engineer yang bekerja. Untuk aplikasi yang bersifat umum dan tidak memerlukan logic yang rumit, no-code bisa menjadi alternatif, tetapi kenyataannya, tidak sesederhana itu. Yang dilihat oleh para pengguna hanya sisi user interface saja, bukan bagian back-end aplikasi yang bekerja keras untuk menghadirkan user experience yang diharapkan user. Pada back-end, ada proses koneksi ke cloud melalui application programming interface (API) yang memroses semua input untuk kemudian mengembalikannya dalam bentuk informasi yang diinginkan oleh pengguna. Teknologi yang terlibat di dalamnya ada banyak sekali dan saling terhubung satu dengan lainnya.

Jadi, jika pertanyaan Jeki dimasukkan ke komputer sekarang ini, informasi yang ditampilkan akan luar biasa, bukan sekadar 1 teks saja: Jakarta…. eh, atau Nusantara…

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Let's Coding while Relaxing